MERDEKA

Merdeka yang dipahami dalam konteks kebangsaan sekalipun berbeda adalah bebas dari intimidasi, diskriminasi, ketakutan dalam menyampaikan pendapat dan opini…

JAKARTA, gpibwatch.id – Sudahkah kita merdeka?? Pertanyaan yang selalu ada dan ada, yang tentu konteksnya berbeda dan cara pandang juga berbeda dalam menganalisa dan mengartikan kata MERDEKA.

Merdeka dalam konsep dan pengertian yang tidak terlalu luas dalam wacana rakyat miskin, rakyat kecil yang hidup apa adanya. Dalam pikirannya bagaimana kehidupan bisa dipenuhi hari demi hari, bulan berjalan, dan sandang, pangan ada setiap hari.

Ucapan syukur selalu datang, apalagi kalau papan, dalam hal ini rumah untuk berteduh, ada. Dan mereka tidak terlalu berpikir yang susah dicerna oleh daya nalar dan logika, dan dengan tercukupi semua dalam sehari saja kata Merdeka itu ada bagi mereka dalam konteks ini.

Tentu berbeda persepsi dengan mereka yang hidup dalam berkecukupan alias orang kaya. Kata Merdeka punya nilai yang berbeda, semuanya serba ada, semuanya bisa terpenuhi dan tercukupi karena dari segi finansial pasti tidak diragukan, dan apa yang ingin digapai pasti dapat terwujud dan semua langkah sangat mudah.

Dan ini sangat berbeda dalam memahami kata merdeka dalam konteks rakyat miskin dan rakyat kaya. Opini setiap orang berbeda dan penjabarannya pun berbeda.

Merdeka dalam konteks kebangsaan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentunya punya scope yang lebih luas, narasinya panjang dan cara pandang setiap orang pun dalam memahami merdeka punya mekanisme yang berbeda.

Pendapat para ahli dan tokoh bangsa memaknai kata “merdeka” sebagai keadaan bebas dari penjajahan, berdaulat penuh dalam menentukan nasib sendiri, mandiri secara ekonomi dan politik, serta memiliki kebebasan otonom dalam diri yang tetap berlandaskan disiplin dan aturan dalam kehidupan bermasyarakat.

Soekarno (Bung Karno) memandang kemerdekaan sebagai “jembatan emas” bagi bangsa untuk memiliki kebebasan dalam mengatur negara serta menentukan haluan politiknya sendiri, tanpa campur tangan bangsa lain.

Sementara Ki Hajar Dewantara memaknai merdeka sebagai keadaan ketika manusia diberi kebebasan oleh Tuhan untuk mengatur hidupnya sendiri, namun tetap selaras dan disiplin mengikuti aturan yang berlaku dalam masyarakat.

Merdeka yang dipahami dalam konteks kebangsaan sekalipun berbeda adalah bebas dari intimidasi, diskriminasi, ketakutan dalam menyampaikan pendapat dan opini. Negara diharapkan sanggup menyediakan wadah untuk saling mendengarkan keluhan rakyatnya, mendengar masukan untuk kemaslahatan, saling bahu-membahu membangun dan saling topang-menopang menuju kemerdekaan yang adil dan jujur serta penuh kebijaksanaan dan ada musyawarah dalam mengambil setiap keputusan.

Merdeka juga berarti merdeka dalam menata dan mengelola keuangan negara. Ketika masih begitu banyak penyalahgunaan anggaran negara yang tidak pada tempatnya, korupsi yang terjadi di berbagai lini, maka kemerdekaan juga berarti keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menentukan sikap dan perilaku tanpa intervensi untuk melakukan tindakan yang merugikan negara, serta berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk penyalahgunaan dan tindakan yang merugikan keuangan negara.

Merdeka dalam bidang ekonomi dan finansial juga menjadi bagian dari makna kemerdekaan itu sendiri.

Agar Merdeka dalam kata dan perbuatan tidak sebatas ucapan, tapi terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu memperhatikan dan peduli, serta memiliki empati dan simpati terhadap rakyatnya dalam segala lini kehidupan.

Jaya terus, bangsaku. Terus melangkah menuju Indonesia 100 tahun. MERDEKA!

JP